Senin dini hari aku terbangun karena mendengar ponselku berdering. Tepat pukul tiga pagi. Kuraih ponsel dari meja. Dua pesan masuk belum di baca. Salah satunya dari ayah tercinta. Tumben ayah mengirim sms pagi-pagi buta, batinku. Tertulis di sana :
INNALILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI'UN. TELAH MENINGGAL DUNIA IBU DR ... DI MAKAMKAN BESOK SENIN 15 NOV DI ......BERANGKAT DR RUMAH DUKA JAM....
Seakan tak mempercayai mataku, ku ulangi membacanya kembali. Sayangnya kalimat itu tak berubah. Baru dua minggu yang lalu ku bertatap muka dengan nenekkku. Meski sedang dalam perawatan paska operasi, baliau terlihat baik-baik saja. Seperti jika kami bertemu di rumah beliau. Yang membedakan hanyalah gumam kesakitan yang sesekali terdengar. Beliau mengidap diabetes. Jempol dan sebagian besar telapak kaki kirinya terpaksa di amputasi karena dianggap membahayakan nyawa beliau. Keputusan harus segera diambil sebelum pembusukan menjalar lebih jauh. Keluarga berharap itu adalah keputusan yang terbaik.
Ketika itu, terbesit di benakku untuk berfoto dengannya. Hanya berdua dan sebagai kenangan. Segera ku tepis pikiran itu. Jika aku menyebutnya "sebagai kenangan", seakan aku takkan pernah bertemu dengannya lagi. Insya allah akan kulakukan nanti, liburan yang akan datang, tekadku dalam hati. Aku yakin akan bertemu dengannya lagi. Entah mengapa saat itu aku merasa dekat sekali dengan nenekku. Hal yang tak pernah kurasakan sebelumnya.
Aku membaca kembali pesan dari ayah. Ternyata pesan tersebut diterima semalam. Usai shalat subuh, segera ku telpon ayah untuk memastikan kabar tersebut. Hatiku masih berharap itu semua hanyalah lelucon. Tapi ayah berkata ;
"Sudah...ikhlaskan saja. Kalau itu memang kehendak Yang Kuasa, kita bisa apa...?
Airmata yang sejak membaca pesan ayah pertama kali hanya berhenti saat ku tunaikan shalat subuh, menderas kembali. Tak ada kata yang mampu kuucapkan. Lidahku kelu. Semua itu begitu mengejutkan.
"Meninggal jam berapa?" tanyaku terbata.
"Semalam, jam setengah sepuluh lewat lima menit. Kemarin masih baik-baik saja. Waktu maghrib pergi untuk kontrol juga baik. Tapi menjelang malam, tiba-tiba kesehatan beliau drop. Sudah memanggil ambulan. Hanya saja, ketika ambulan datang, nenek sudah tidak ada. Beliau berpesan untuk cucu-cucunya, belajar yang rajin."
Hatiku semakin pedih mendengarnya. Pagi itu ada UTS dan aku belum terlalu siap. Pesan terakhir almarhumah seakan menyuruhku untuk tegar. Meski beliau berpulang, aku tidak boleh bersedih dan tetap fokus pada ujian. Ayah juga berkata demikian. Airmataku justru menderas mendengarnya. Sanggupkah aku?, tanya diriku sangsi.
Kini, hanyalah do'a yang kupunya untuknya. Semoga ia tenang di sana. Amal baik diterima-Nya dan segala khilaf diampuni-Nya. Semoga keluarga di beri-Nya ketabahan dan kelapangan dada. Jika bukan kepada-Nya, lalu pada siapa kami akan menyandarkan hati yang kadang setegar karang namun serapuh kaca ini...?
Setiap ku teringat kembali keinginan untuk berfoto ketika aku menjenguknya di rumah sakit, ada sesal terselip. Tapi, mengingat gumam kesakitannya, aku berdo'a semoga ini jalan keluar terbaik-Nya. Agar beliau tak merasakan sakit itu lagi.
____menjelang seminggu kepergian almarhumah____

0 komentar:
Posting Komentar