________bismillahirrahmanirrahim________
Mimpi....
Tak semua orang percaya akan kekuatan mimpi. Mimpi di sini bukanlah bunga tidur. Tetapi keinginan atau cita-cita yang kita punya. Dulu akupun begitu. Hanya memandangnya sebelah mata. Karena kupikir mimpi hanyalah mimpi. Tapi apa yang kurasakan sekarang sangatlah berbeda.
Berawal dari mimpi seorang anak kecil yang masih polos akan perkuliahan. Ia bermimpi jika dewasa kelak, ia akan meneruskan pendidikan di bahasa inggris di kota Bandung atau Yogyakarta. Ia belum mengerti apa itu jurusan ataupun universitas. Yang ia tahu, ia sedang sukanya dengan bahasa inggris. Alhamdulillah, nilai akademiknya di bahasa inggris pun tak mengecewakan. Tidak pernah dihiasi tinta merah. Mengapa Bandung atau Yogyakarta? Bukan Jakarta yang terkenal sebagai ibukota? Entah mengapa. Ia pun tak tahu pasti jawabnya. Mungkin karena ia pernah mengunjungi kota Kembang dan meyukai hawa sejuknya. Sedang Yogyakarta, ia sering melewati kota tersebut setiap kali mengunjungi kakek-neneknya di Magelang. Meski begitu, ia tak begitu tahu tentang kedua kota tersebut. Mimpi yang polos.
Bertahun kemudian, mimpi anak itu masih sama. Tapi kali ini ia menambahkan hubungan internasional dan jurnalistik dalam daftar jurusan yang ingin ia ambil di perkuliahan nantinya. Lagi-lagi mimpi yang tak jelas. Bahkan ia menyebutnya "hanya keinginan semata" bukan mimpi.
Bangku perkuliahan semakin nampak di depan mata. Daftar jurusan yang ingin ia ambil kembali berubah. Yang sama hanyalah bahasa inggris yang terus menempati urutan teratas secara berkala. Urutan kedua adalah psikologi lalu jurnalistik. Ia memilih mundur dari HI dan menggantinya dengan psikologi karena ia tidak menyukai dunia politik yang menurutnya ribet dan kotor. Alasan kenapa ia memilih psikologi, karena ia tertarik mempelajari karakter seseorang. Terutama anak-anak. Sayangnya, sang ibu keberatan dengan jurusan yang satu itu. Beliau khawatir dengan peluang kerja yang dijanjikan pada seorang sarjana psikologi.
Ujian masuk universitas pun di gelar. Anak itu mencoba keberuntungannya di salah satu universitas yang cukup ternama di Yogyakarta. Sayang, nasib belum berpihak padanya. Ia kembali mencoba di salah satu universitas di Bandung, yang menurut keluarga besar sang ibu, merupakan universitas terbaik dalam bahasa inggris.
17 Mei 2009 menjadi hari yang sangat mendebarkan. Batu loncatan selanjutnya akan ditentukan. Ia membuka website pengumuman penerimaan mahasiswa baru (maru) jurusan sastra inggris dan pendidikan bahasa inggris. Tak ada namanya di sastra. Dengan harapan terakhir yang ia punya, ia membaca satu persatu nama maru di jurusan pendidikan bahasa inggris. Surprise...!!! Tertera di sana nama lengkapnya. Urutan keduapuluh lima. Sontak ia pun sujud syukur dengan airmata kebahagiaan yang berderai. Siapa sangka. Berawal dari "hanya keinginan semata", mimpi polos itu terwujud.
Dan di sinilah aku berdiri, di jurusan bahasa inggris yang lama telah ku impikan di sebuah universitas di kota Kembang. Allah Maha Mengetahui. Allah Maha Mendengar. Aku pun meyakini, rencana-Nya selalu indah. Bukan dalam takaran manusia, namun takaran-Nya. Karena aku tak tahu rencana apa setelah ini semua. Misterius namun terbaik.
Jangan takut untuk bermimpi! Karena IA tak pernah mengabaikan hamba-Nya. Berawal dari mimpi, di barengi dengan usaha dan do'a lalu bertawakal. Kita menulis semua itu dengan pensil. Lalu serahkan penghapusnya pada Allah, biarkan IA yang mengoreksi dan memberi nilai.
Sabtu, 20 November 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar